23 Januari 2026
I. STUDI KASUS
Di sebuah grup WhatsApp pelayanan gereja, ada satu anggota yang cukup sering datang terlambat dan
jarang memberi kabar. Padahal, sudah pernah dibuat aturan yang disepakati bersama untuk “Tidak boleh
datang terlambat.” Suatu hari, koordinator pelayanan menegur langsung di grup: “Teman-teman,
pelayanan ini bukan main-main. Kalau tidak bisa komit, lebih baik mundur saja.” Ketika dikatakan demikian,
anggota yang ditegur merasa dipermalukan, lalu: menjadi pasif, jarang hadir, dan akhirnya benar-benar
keluar dari pelayanan. Koordinator berkata: “Saya cuma mau menegakkan disiplin. Kalau tidak ditegur,
nanti semua jadi longgar.”
Diskusikanlah:
? Apakah tindakan koordinator pelayanan ini bisa dibenarkan demi menjaga disiplin dan kualitas
pelayanan? Apa alasannya?
? Apakah tindakan anggota yang akhirnya keluar pelayanan bisa dibenarkan? Apa alasannya?
? Menurut Saudara, jika teguran keras seperti ini dihindari, apa risikonya? Sebaliknya, jika teguran
keras diberikan, apa risikonya?
Refleksi:
Sebuah aturan yang benar, bahkan dengan niat yang benar, ternyata dapat menghasilkan dampak yang
bertentang dengan tujuan semula. Permasalahan kerap berangkat dari cara kita memberlakukan suatu
aturan. Misalnya, dengan mengatakan “Ini benar, itu salah” atau sebaliknya tanpa melihat dan memahami
secara utuh sebuah permasalahan. Kita mungkin sekadar mengatakan “Ini benar, itu salah” dari “kata
orang” atau “aturannya memang begitu” tanpa mencoba mendalaminya.