BAHAN PEMAHAMAN ALKITAB WILAYAH – FEBRUARI 2026
Tema : "POLA HIDUP ORANG BENAR"
Bahan : Matius 5:17-20
I. STUDI KASUS
Di sebuah grup WhatsApp pelayanan gereja, ada satu anggota yang cukup sering datang terlambat dan
jarang memberi kabar. Padahal, sudah pernah dibuat aturan yang disepakati bersama untuk “Tidak boleh
datang terlambat.” Suatu hari, koordinator pelayanan menegur langsung di grup: “Teman-teman,
pelayanan ini bukan main-main. Kalau tidak bisa komit, lebih baik mundur saja.” Ketika dikatakan demikian,
anggota yang ditegur merasa dipermalukan, lalu: menjadi pasif, jarang hadir, dan akhirnya benar-benar
keluar dari pelayanan. Koordinator berkata: “Saya cuma mau menegakkan disiplin. Kalau tidak ditegur,
nanti semua jadi longgar.”
Diskusikanlah:
- Apakah tindakan koordinator pelayanan ini bisa dibenarkan demi menjaga disiplin dan kualitas
pelayanan? Apa alasannya? - Apakah tindakan koordinator pelayanan ini bisa dibenarkan demi menjaga disiplin dan kualitas
pelayanan? Apa alasannya? - Menurut Saudara, jika teguran keras seperti ini dihindari, apa risikonya? Sebaliknya, jika teguran
keras diberikan, apa risikonya?
Refleksi:
Sebuah aturan yang benar, bahkan dengan niat yang benar, ternyata dapat menghasilkan dampak yang
bertentang dengan tujuan semula. Permasalahan kerap berangkat dari cara kita memberlakukan suatu
aturan. Misalnya, dengan mengatakan “Ini benar, itu salah” atau sebaliknya tanpa melihat dan memahami
secara utuh sebuah permasalahan. Kita mungkin sekadar mengatakan “Ini benar, itu salah” dari “kata
orang” atau “aturannya memang begitu” tanpa mencoba mendalaminya.
II. PENGANTAR
Diskusi atas kasus di atas menjadi titik berangkat bagi kita untuk mendalami peristiwa kehidupan sehari-
hari, tetapi juga memiliki unsur yang dilematis. Melalui Matius 5:17-20, Yesus mau mengajarkan pola
berpikir yang menuntun orang banyak pada waktu itu, juga kita hari ini, agar dapat menjadi orang yang
hidup dalam kebenaran: yang mau memahami dan melakukan kebenaran Firman Tuhan dalam fenomena
kehidupan yang kompleks saat ini.
KONTEKS MATIUS 5
Matius 5–7 merupakan khotbah Yesus di bukit yang di dalamnya berisi pengajaran Yesus untuk
membentuk kehidupan orang banyak di konteks Yahudi. Orang Yahudi begitu menjunjung tinggi hukum
Taurat sebagai aturan yang menolong mereka untuk menjaga relasi dengan Allah juga sesamanya sebagai
komunitas. Pada saat itu pun terdapat beberapa kelompok utama dalam Yudaisme yang memiliki fungsi
untuk menjaga pemberlakuan hukum Taurat. Paling tidak, sebagaimana disebut Yesus di ayat 20, terdapat
kelompok ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi.
Ahli-ahli Taurat adalah orang-orang terdidik yang memiliki otoritas menjaga tradisi Hukum Taurat, juga
menafsir dan mengajarkannya, sedangkan orang-orang Farisi adalah kaum awam yang bergerak
mendalami dan menaati hukum Taurat. Melalui keberadaan mereka, keimanan mereka dan kehidupan
mereka sebagai komunitas terus terjaga.
Yesus sendiri tidak menolak keberadaan dan fungsi mereka sebagai pewaris penting hukum
Taurat. Secara khusus, khotbah Yesus di bukit ini juga bukan perlawanan terhadap kelompok-kelompok
Yahudi maupun hukum Taurat. Pada ayat 20 Yesus secara tidak langsung mengatakan bahwa ahli-ahli
Taurat dan orang-orang Farisi itu pun punya kebenarannya. Namun demikian, Yesus mau bahwa
kebenaran yang dimiliki para murid melampaui kebenaran yang didefinisikan oleh ahli-ahli Taurat dan
orang-orang Farisi. Untuk itu, Yesus justru menunjukkan esensi hukum Taurat kepada para murid agar
mereka tidak terjebak pada “aturannya”, tetapi dapat menemukan “esensi/inti” yang menuntun pada
praktik yang mengarah pada perwujudan Kerajaan Allah.
Melihat struktur khotbah Yesus di bukit, Yesus memulai dengan “Ucapan Bahagia” (lih. 5:3-12)
yang secara garis besar menunjukkan anugerah dan janji Allah bagi setiap orang apapun kondisinya.
Karunia dan janji pemenuhan itu mendahului panggilan bagi para murid (termasuk kita!). Kita yang
menerima karunia dan janji-Nya dipanggil untuk melakukan karya kesaksian yang memuliakan Bapa di
surga (lih. 5:13-16). Untuk itu, Yesus menunjukkan prinsip dalam menginterpretasikan dan
memberlakukan hukum Taurat (lih. 5:17-47). Yesus juga mengajarkan prinsip melakukan kebenaran itu
(lih. 6:1-34) dan menerapkannya di tengah lingkungan (lih. 7:1-12).
PENDALAMAN MATIUS 5:17-20
Secara khusus, Matius 5:17-20 merupakan pengantar yang memperjelas posisi Yesus terhadap hukum
Taurat. Pasalnya, melihat ayat 17, tampak ada asumsi bahwa Yesus sedang meniadakan hukum Taurat
atau kitab para nabi yang dijunjung tinggi oleh umat Yahudi. Maka, Yesus menegaskan bahwa kedatangan-
Nya adalah untuk menggenapinya.
Pertanyaan : Apa arti Yesus menggenapi hukum Taurat?
Jawaban : Menggenapi bukanlah lawan kata dari “menghancurkan”.
Menggenapi artinya menjaga, bahkan lebih dari menjaga ? menemukan esensi dari hukum Taurat.
Yesus mengakui bahwa hukum Taurat penting, tidak dapat diubah dan ditiadakan, dan tidak bisa
diremehkan (5:18, bdk. Luk. 16:17). Ayat 19 menegaskan pemahaman Yesus, “...siapa yang meniadakan
salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang
lain, ia akan diberi tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga.” Menariknya, yang diberikan
tempat yang tinggi bukanlah kebalikannya (“...siapa yang tidak meniadakan...dan mengajarkannya...”),
melainkan “...siapa yang melakukan dan mengajarkannya, ia akan diberi tempat yang tinggi di dalam
Kerajaan Surga.
Pertanyaan :
- Apa bahaya dari “meniadakan” hukum Taurat, sehingga Yesus menempatkan orang yang
meniadakannya dalam posisi paling rendah dalam kerjaan Surga?
Meniadakan hukum Taurat memang berbahaya karena dapat berdampak pada pengajaran
yang keliru – yang kemudian bisa menuntun orang melakukan tindakan yang keliru.
- Ketika bicara soal tempat tinggi dalam kerajaan Surga, Tuhan Yesus tidak merujuk pada
orang yang “tidak meniadakan” hukum Taurat sebagai lawan kata dari “meniadakan”,
tetapi malah yang “melakukan”. Padahal, “tidak meniadakan” dan “melakukan” adalah
aksi yang berbeda. Menurut Saudara, dimana letak perbedaan antara “tidak meniadakan”
dan “melakukan”?
> Tidak meniadakan: mengakui hukum itu benar, setuju bahwa hukum itu penting,
tidak mengubah isinya ? fokus pada isi tetapi belum tentu berarti hukum
dilakukan; bisa terjebak pada pengetahuan dan penegakkan hukum yang kaku
(fokusnya pada “apa yang kelihatan”, bukan “esensi”).
> Melakukan: mengakui hukum itu benar dan dilakukan, baru diajarkan.
- Menurut refleksi Saudara, apa yang hendak Yesus katakana melalui urutan “melakukan”
baru “mengajarkan” hukum Taurat?
Yesus kemudian mengatakan, “Aku berkata kepadamu: Jika hidupmu tidak lebih benar daripada ahli-ahli
Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam kerajaan Surga” (5:20).
Dalam perkataan ini, Yesus tidak mengatakan bahwa ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi tidak benar.
Akan tetapi, lewat perkataan ini juga, hidup orang Farisi bukan juga hidup yang benar. Mereka memang
tidak meniadakan hukum Taurat dan mengajarkannya. Namun, Yesus mengajak kita melangkah lebih
jauh. Maka, secara sederhana, coba kita visualisasi logikanya:
Hidup tidak benar = meniadakan hukum Taurat, lalu mengajarkan untuk meniadakannya
Hidup tidak salah = tidak meniadakan hukum Taurat, lalu hanya mengajarkannya
Hidup benar = ................................................................................................................................. ?
Hidup benar = melakukan, bukan hanya tidak meniadakan tetapi mencari esensi hukum Taurat, dan mengajarkan
Sampai di titik ini, kita bisa melihat bahwa Yesus tidak hendak melawan atau mengubah hukum Taurat.
Yesus justru sangat memegang hukum Taurat. Ia mewujudkannya dengan betul-betul menemukan esensi
dan nilai-nilai kerajaan Allah dari hukum Taurat itu, sehingga pemberlakuannya pun tepat.
Bacalah Matius 5:21-22 dan 5:27-28 sebagai contoh konkretnya.
Hukum Taurat : “Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.”
Yesus : “Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum....”
Bagaimana Anda melihat kaitan hukum Taurat ini dan pengajaran Yesus?
- Akar pembunuhan adalah kemarahan
Hukum Taurat : “Jangan berzina”
Yesus : “Setiap orang yang memandang perempuan hingga menginginkannya, sudah
berzina dengan dia dalam hatinya”
Bagaimana Anda melihat kaitan hukum Taurat ini dan pengajaran Yesus?
- Akar perzinahan adalah keinginan terhadap milik orang lain
MENDALAMI KASUS DENGAN POLA YESUS
Setelah kita memperoleh pemahaman dari pendalaman Matius 5:17–20, kita diingatkan bahwa Yesus tidak
meniadakan hukum, tetapi justru menggali esensi dan memberlakukannya dengan berorientasi pada
esensinya. Oleh karena itu, kita akan melangkah secara bertahap—dari memahami peristiwa, menggali
makna aturan, hingga memikirkan cara menegakkan aturan yang setia pada esensinya.
- KENALI PERISTIWA TANPA TERLEBIH DAHULU MELIHAT BENAR ATAU SALAHNYA.
- Apa yang dialami dan dirasakan oleh masing-masing pihak dalam peristiwa ini?
2. LIHAT ATURAN DAN TEMUKAN ESENSINYA
- Apa aturannya? Tidak boleh terlambat
- Apa akar/esensi/tujuan dari dibuatknya peraturan tersebut? Menghindari kekacauan
dan ketidakseriusan pelayanan, keharmonisan anggota pelayanan. - Apa akar/esensi/tujuan dari dibuatknya peraturan tersebut? Menghindari kekacauan
dan ketidakseriusan pelayanan, keharmonisan anggota pelayanan.
3. MENEGAKKAN ATURAN YANG SESUAI DENGAN ESENSI
- Anggaplah Saudara adalah coordinator pelayan, bagaimana cara Saudara menegakkan
aturan yang tetap sesuai dengan esensi aturan tersebut dibuat?
USULAN LAGU UNTUK DINYANYIKAN
“JALAN HIDUP ORANG BENAR” By: Robert & Lea
Jalan hidup orang benar
Diterangi oleh cah’ya FIRMAN TUHAN
Jalan hidup orang benar
Semakin terang hingga rembang tengah hari
Apabila ia jatuh
Tidaklah dibiarkan sampai terg’letak
S’bab TANGAN TUHAN jua yang menopangnya
Dan membangunkan dia kembali
