BAHAN PEMAHAMAN ALKITAB WILAYAH – MARET 2026
I. PENGANTAR
Pernahkah Anda merasa hidup ini seperti terbagi-bagi dalam kotak? Ada kotak ‘pekerjaan’ (Senin sampai Jumat yang melelahkan), kotak ‘keluarga’ (Sabtu yang sibuk), dan kotak ‘Tuhan’ (Ibadah di hari Minggu). Sering kali kita merasa bahwa kita baru benar-benar ‘menyembah Tuhan’ saat kita duduk di bangku gereja, memakai baju rapi, dan menyanyi diiringi musik yang syahdu. Fenomena inilah yang sering disebut work life balance–sebuah upaya keras manusia untuk menyeimbangkan antara tuntutan karier yang melelahkan dan kehidupan pribadi yang bermakna. Kita berusaha keras membagi waktu agar semua bagian hidup ini seimbang. Namun dampaknya, kita sering merasa jauh dari Tuhan saat sedang bekerja di kantor, mencuci piring di dapur, atau saat terjebak macet. Seolah-olah Tuhan hanya ada di gereja, dan urusan dunia kita adalah tanggung jawab kita sendiri. Melalui bahan ini, kita diajak untuk kembali menghayati bahwa penyembahan kepada Allah tidak bergantung pada situasi, waktu, dan lokasi tertentu, melainkan mewujud dalam kesediaan berelasi dengan-Nya dalam keseluruhan aspek hidup kita.
II. PENDALAMAN TEKS YOHANES 4:5-42 Yohanes 4:5-42
mengisahkan perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria. Kisah ini terjadi tepat setelah percakapan Yesus dengan Nikodemus di pasal 3. Jika dengan Nikodemus, Yesus berbicara dalam koridor sesama Yahudi, percakapan dengan perempuan Samaria, justru melibatkan tiga kelompok yang berbeda, yakni kelompok Yahudi, yang diwakili para murid yang heran melihat guru mereka berbicara dengan perempuan; kelompok Samaria, diwakili oleh perempuan tersebut; dan kelompok Yesus, yang membawa pesan baru melampaui batas-batas suku dan agama.
Narasi bermula saat Yesus memutuskan meninggalkan Yudea menuju Galilea. Ia memilih rute melintasi Samaria, yang merupakan jalur tersingkat dan lebih aman dibandingkan jalur alternatif melewati Sungai Yordan. Saat sedang beristirahat di sumur Yakub karena rasa letih yang dialami-Nya, Yesus bertemu dengan seorang perempuan Samaria. Keterangan waktu kira-kira pukul dua belas siang bukanlah hal yang lazim. Sebab, tidak biasa bagi seorang perempuan untuk mengambil air di sumur pada pukul dua belas siang. Beberapa penafsir berspekulasi bahwa tindakan ini dilakukan karena perempuan Samaria itu menghindar dari perempuan-perempuan lain karena reputasinya yang buruk di masyarakat.
Percakapan Yesus dengan perempuan Samaria dimulai ketika Yesus meminta air kepada perempuan itu. Apa yang dilakukan Yesus ini mungkin terdengar sederhana, Ia hanya meminta air. Tetapi yang terjadi di sini sebenarnya bukanlah hal yang biasa, sebab ada jarak atau gap yang memisahkan antara diri-Nya sebagai seorang laki-laki Yahudi dengan perempuan Samaria. Ia menanggapi permintaan Yesus dengan bertanya, “Bagaimana mungkin Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang perempuan Samaria?” lalu di sana diberikan keterangan yang menyatakan bahwa “Adapun orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria”. Tanggapan yang diberikan oleh perempuan Samaria itu serta keterangan yang ditambahkan dalam narasi, menunjukkan bahwa terdapat suatu jarak di antara kelompok Yahudi dan Samaria.
Tanpa mempedulikan komentarnya tentang relasi buruk yang terjadi di antara orang Yahudi dan Samaria, di ayat 10, Yesus mulai mengambil langkah membahas mengenai jati diri-Nya serta karunia yang Ia tawarkan kepada perempuan itu. Yesus menggunakan istilah air hidup untuk menggambarkan karunia melimpah yang diberikan Allah kepada manusia, melalui diri-Nya. Dalam tradisi Yahudi, air seringkali digunakan sebagai sarana penyucian atau pentahiran (lih. Im.14:8-9, Bil. 19:17-19; Yeh. 36:25). Dengan demikian, di dalam Kristus, baik orang Yahudi maupun orang Samaria, dapat hidup bersama-sama tanpa adanya suatu kenajisan yang memisahkan mereka. Mendengar ungkapan Yesus, perempuan itu bingung. Ia bertanya-tanya bagaimana Yesus dapat mengambil air itu jika tidak memiliki timba, sementara sumur itu sangat dalam. Kesalahpahaman ini menunjukkan kebutaan manusia terhadap pewahyuan Allah di dalam Kristus. Perempuan itu memahami perkataan Yesus secara harfiah, dengan merujuk kepada air sungguhan yang ada di sumur itu, sedangkan Yesus berbicara mengenai kenyataan spiritual.
PERTANYAAN PANDUAN DISKUSI:
1. Apa yang perempuan Samaria pahami tentang arti Yesus sebagai Air Hidup?
2. Menurut Anda secara pribadi, apa makna Yesus sebagai Air Hidup?
Dalam kebingungannya, Yesus mencoba mengungkapkan diri-Nya dengan menyuruh perempuan itu memanggil suaminya. Di momen itu, ia menjawab Yesus dengan mengatakan bahwa ia tidak mempunyai suami. Namun, Yesus berkata, “Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu.”
PERTANYAAN PANDUAN DISKUSI:
3. Menurut Anda, apa tujuan Yesus mengatakan demikian?
Dari perkataan Yesus ini, banyak penafsir umumnya menilai bahwa perempuan Samaria itu adalah pelacur, dan berakibat meminimalkan kehadiran serta kontribusinya dalam narasi. Sekalipun demikian, ada juga penafsir yang menggunakan kisah perempuan Samaria ini sebagai kisah pengharapan bagi semua orang berdosa. Jadi jelas bahwa tujuan utama dari perkataan Yesus ini bukan untuk membuat malu atau menuduh perempuan itu sebagai orang yang bersalah, apapun dosa yang telah dilakukan oleh perempuan itu bukanlah fokus dari kisah ini. Dalam kekayaan kasih karunia Allah, Yesus hanya menuntut kejujuran perempuan Samaria itu agar hidupnya tidak dibangun dari kepalsuan.
Di ayat 19, perempuan Samaria itu memandang Yesus sebagai nabi. Ia menganggap bahwa Yesus mampu memberikan jawaban atas berbagai masalah, termasuk yang paling sensitif di dalam relasi antara kelompok Yahudi dan kelompok Samaria, yaitu tentang tempat penyembahan Allah yang benar (ay. 20). Perempuan Samaria itu mengatakan bahwa nenek moyangnya menyembah Allah di atas gunung ini (Gunung Gerizim). Dengan menyebut nenek moyangnya, ia sedang mencari pembelaan terhadap tradisi penyembahan yang selama ini dipegang oleh orang Samaria, yang bertentangan dengan tradisi penyembahan orang Yahudi. Yesus memberikan tanggapan terhadap pertanyaan perempuan Samaria itu dengan mengatakan, “Percayalah kepada-Ku, Ibu, saatnya akan tiba bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari orang Yahudi.” Pernyataan Yesus menegaskan bahwa keselamatan tidak ditentukan oleh lokasi penyembahan, melainkan pada pengenalan akan Allah.
PERTANYAAN PANDUAN DISKUSI:
4. Berdasarkan pernyataan Yesus, siapa saja yang boleh datang menyembah Allah?
Yesus melanjutkan dengan mengatakan, “Namun, saatnya akan tiba dan sudah tiba sekarang bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran.” Perkataan Yesus ini menandakan bahwa akan ada suatu transformasi/perubahan dari tradisi agama-agama yang selama ini dikembangkan. Frasa ‘sudah tiba sekarang’ menunjukkan bahwa transformasi itu sudah bahkan sedang terjadi saat ini. Frasa ‘Menyembah dalam roh dan dalam kebenaran’ berarti beribadah dalam konteks karunia Allah di dalam Kristus, sehingga masalahnya bukan terletak pada cara atau lokasi ibadahnya, melainkan bagaimana manusia membangun relasi dengan Allah. Pernyataan Yesus disadari secara penuh oleh perempuan Samaria itu. Ia berkata, “Aku tahu bahwa Mesias yang disebut juga Kristus, akan datang. Apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami.” Pernyataan ini menunjukkan iman percaya perempuan itu pada Yesus. Ia tahu bahwa segala sesuatu, termasuk permasalahan tentang penyembahan, akan diungkapkan oleh Mesias. Dengan demikian, Yesus telah menyatakan diri-Nya dan tawaran-Nya telah disampaikan, maka perempuan Samaria itu pun percaya. Di akhir kisah, diceritakan bahwa perempuan itu meninggalkan tempayannya dan pergi ke kota untuk memberitakan apa yang ia alami. Oleh karena kesaksiannya, banyak orang Samaria dari kota itu kemudian menjadi percaya kepada Yesus.
III. PESAN
Kisah percakapan Yesus dengan perempuan Samaria mereformasi pemahaman kita mengenai penyembahan yang sering terjebak dalam kotak-kotak rutinitas dan batasan lokasi fisik. Melalui tawaran ‘Air Hidup’, Yesus menegaskan bahwa penyembahan yang sejati tidak lagi terikat pada lokasi tertentu, melainkan dalam roh dan kebenaran yang mewujud dalam relasi jujur dengan Allah di seluruh aspek kehidupan. Transformasi spiritual ini tidak hanya mengubah identitas diri seseorang, tetapi juga memanggil setiap orang percaya untuk mewujudnyatakan iman ke dalam tindakan nyata sehari-hari, sehingga setiap hal yang kita lakukan–baik di lingkungan keluarga, pekerjaan, tempat studi, masyarakat menjadi bentuk ibadah yang nyata kepada Tuhan.
PERTANYAAN PANDUAN DISKUSI:
5. Jika menyembah Tuhan tidak terbatas di dalam gereja saja, bagaiamana cara menjadikan pekerjaan atau rutinitas harian Anda sebagai bentuk ibadah yang nyata?
IV. USULAN LAGU:
1) Seperti Wanita di Pinggir Sumur (PKJ 245:1-3)
2) Apalah Arti Ibadahmu (PKJ 264:1-2)
