Download Tata Ibadah Jadwal Kebaktian Lihat Arsip

Jadwal Kebaktian : Minggu 17 Mei 2020

"MENGENAL DAN MEMPERKENALKAN ALLAH YANG HIDUP"

——— Kisah Para Rasul 17:22-34

Memperkenalkan Allah yang hidup, mulai dari mana? Saya yakin, pertanyaan serupa bisa muncul dalam benak kita masing-masing. Dari kisah perjalanan Paulus di Atena, kita dapat melihat dengan jelas bagaimana ia memperkenalkan Allah.

Paulus mulai dengan sebuah keprihatinan. Ia sedih melihat kota itu dipenuhi patung-patung berhala. Lalu ia berdiskusi baik di dalam rumah ibadah, maupun di pasar dengan setiap orang yang dijumpainya. Ia juga bersoal jawab dengan ahli pikir dari golongan Epikuros dan Stoa yang membawanya menuju sidang Areopagus. Di sana Paulus memperkenalkan Allah yang hidup dengan bertolak dari sebuah tulisan di mezbah: Kepada Allah yang tidak dikenal.

Apa yang kita lihat dari kisah ini? Paulus memperkenalkan Allah yang hidup lewat hal-hal yang dekat dengan keseharian orang Atena. Selain dikenal oleh karena dewa-dewanya, kota Atena juga dikenal karena pertumbuhan filsafatnya. Orang-orang yang gemar untuk mencari tahu dan mempertanyakan segala sesuatu akan datang untuk belajar ke Atena. Cobalah Saudara simak ayat 24-28. Saudara dapat menemukan bagaimana Paulus menjelaskan kehadiran Allah yang tidak dikurung dalam kuil-kuil melainkan dekat dengan masing-masing orang. Paulus juga menjelaskan asal muasal hidup, gerak dan keberadaan manusia. Hal-hal ini begitu dekat dengan alam berpikir dan alam hidup orang di Atena.

Apakah Paulus selalu bisa membuat semua orang percaya? Ketika mereka mendengar tentang kebangkitan orang mati, maka ada yang mengejek, dan yang lain berkata: “Lain kali saja kami mendengar engkau berbicara tentang hal itu” (ayat 32). Rupanya Paulus pun juga pernah mengalami penolakan. Sekalipun demikian, karya Roh Kudus menggerakkan Dionisius dan Damaris serta orang-orang lain menjadi percaya.

Kembali ke pertanyaan awal, Saudara dapat memperkenalkan Allah mulai dari keseharian yang dialami oleh setiap orang yang Saudara jumpai. Keseharian dapat menjadi jembatan bagi kita untuk memperkenalkan Allah yang hidup kepada orang lain. Saya tidak dapat memperkenalkan orang yang tidak saya kenal. Tetapi saya bisa memperkenalkan ayah saya kepada Saudara. Mengapa? Karena, saya berelasi dalam keseharian dengan ayah saya dan mengenalnya dengan baik. Demikian juga Paulus. Paulus dapat memperkenalkan Allah pada orang lain karena ia telah terlebih dahulu mengenal Allah dengan baik. Jika Saudara rindu memperkenalkan Allah pada orang lain, mulailah dengan mengenal Dia dengan baik pula dalam hidup Saudara. DWE

Pelayan Kebaktian