Jadwal Kebaktian Lihat Arsip

Jadwal Kebaktian : Minggu 04 Oktober 2020

"HASILKANLAH BUAH YANG MANIS"

——— Yesaya 5:1-7

Dalam bacaan hari ini, umat Allah digambarkan sebagai kebun anggur dan Allah adalah pemilik kebun. Apa artinya? Dalam sebuah webinar tentang “Creative with Plants” yang diselenggarakan oleh Komisi Dewasa bulan Agustus lalu, saya belajar bahwa ada beda antara tumbuhan dan tanaman. Tumbuhan hidup secara liar, sedangkan tanaman hidup karena perawatan dan pemeliharaan.

Gambaran kebun anggur berarti umat Allah bukan tumbuhan liar. Umat Allah tidak tumbuh dengan sendirinya tanpa perhatian dan perawatan. Umat Allah dipelihara. Lihatlah bagaimana kebun anggur itu didesain oleh Allah berada di lereng yang bukit yang subur. Allah sangat memperhatikan di mana kebun anggur ditempatkan. Allah tahu betul tanaman yang baik perlu berada di tanah yang baik pula. Tanah itu dikelola sedemikian rupa dengan dicangkul dan dibuang batu-batunya agar menjadi tanah yang subur. Pokok anggur yang ditanam pun dinamai dengan pokok anggur pilihan. Itu berarti kehadiran umat Allah adalah sesuatu yang special di mata Allah.

Tak berhenti di situ, Allah juga mendirikan menara jaga di tengah-tengahnya sebagai gambaran umat Allah dijaga senantiasa. Dengan membuat lubang tempat memeras anggur, Allah menanti dan berharap agar kebun anggur itu menghasilkan buah anggur yang baik. Artinya Allah percaya bahwa umat Allah berpotensi menghasilkan buah yang baik.

Sayangnya, harapan dan kenyataan yang Allah jumpai jauh berbeda. Buah asam yang justru dihasilkan oleh kebun anggur itu. Apa maksudnya buah anggur yang baik dan asam? Di ayat 7 yang merupakan klimaks nyanyian ini, hal itu menjadi jelas. Buah anggur yang diharapkan oleh Allah dari umat-Nya adalah keadilan dan kebenaran. Buah asam yang tak diharapkan adalah kelaliman dan keonaran. Dalam bahasa Ibrani, penulis kitab Yesaya menggunakan permainan kata: keadilan (tsedaqah) – keonaran (tse’aqah), kebenaran (mishpat) – kelaliman (mishpakh).

Dalam kondisi penuh ketidakpastian seperti sekarang ini, tema pemeliharan Allah menjadi makin menonjol dan diperlukan. Percayalah bahwa kita bukan tumbuhan liar di hadapan Allah. Kita adalah umat yang dirawat dan dipelihara dengan baik. Namun, bersama dengan penghayatan akan pemeliharaan Allah, mari kita ingat untuk menghasilkan buah yang manis. Pemeliharaan Allah seharusnya berbanding lurus dengan kemampuan kita menghasilkan buah yang baik, yaitu kehidupan penuh keadilan dan kebenaran. DWE

Pelayan Kebaktian