BAHAN PEMAHAMAN ALKITAB WILAYAH – SEPTEMBER 2026
Tema : SALEH, JUJUR DAN TAKUT AKAN TUHAN
Bahan : (Ayub 1:1-22)
Tujuan : Umat mempraktikkan hidup saleh, jujur dan takut akan Tuhan setiap hari (belajar dari Ayub)
PENGANTAR
Kitab Ayub dapat dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama (Pasal 1-2) merupakan prolog yang berbentuk prosa, menggambarkan latar belakang peristiwa Ayub. Bagian kedua (Pasal 3:1-42:6) dalam bentuk sajak yang panjang, menceritakan bagaimana Ayub dan sahabat-sahabatnya berdebat untuk mengerti keadaan Ayub sebagaimana yang Allah kehendaki. Bagian ketiga (Pasal 42:7-14) epilog dalam bentuk prosa, menceritakan kisah Ayub yang keadaannya dipulihkan oleh Tuhan. Sungguh perjalanan kehidupan seseorang yang menempatkan kita untuk memandang segala sesuatu dari cara pandang Ilahi bukan dari cara pandang manusiawi yang mempunyai keterbatasannya sendiri. Bagaimana orang yang saleh dan jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan harus mengalami penderitaan yang berturut-turut dan tak terperikan. Itulah yang mencolok dalam Kitab Ayub. Penderitaan yang tidak pada tempatnya adalah suatu rahasia yang tidak terselami. Hal itu yang menjadi tema utama Kitab Ayub. Melalui pasal pertama yang menjadi bahan pemahaman alkitab kita di bulan September, kita belajar bagaimana sikap hidup Ayub yang saleh, jujur, takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan teruji ketika menghadapi penderitaan sebagai bagian dari pengalaman hidup beriman. Sikap hidup yang konsisten yang dinampakkan oleh Ayub dari awal sebelum mengalami dan ketika penderitaan itu terjadi.
PEMBAHASAN
Cerita diawali dengan peristiwa yang terjadi di tanah Us. Ada seorang laki-laki yang bernama Ayub sebagai tokoh utama dalam peristiwa itu. Orang yang saleh dan jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ayub seorang yang terkaya di antara semua orang pada zamannya (ayat 3). Ayah dari tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan, angka-angka yang menggambarkan kesempurnaan. Kitab Ayub secara jelas menekankan akan sikap hidup Ayub yang luar biasa baiknya. Betapa kita mengagumi Ayub dan merasa sedih membaca penderitaan yang dialaminya secara beruntun.
DISKUSI
1. Apa makna kata saleh, jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan menurut konteks kitab Ayub?
2. Belajar dari Ayub yang mulai dari keluarganya memberikan keteladanan dari sikap hidup saleh, jujur dan takut akan Allah, bagaimana dengan kehidupan keluarga kita masing-masing?
3. Bagaimana praktek hidup kebanyakan orang yang mengaku beriman kepada Kristus Tuhan dalam hidup kesehariannya?
Kata saleh yang kita sering dengar juga dengan kata sholeh, yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki dua arti utama, pertama yaitu: taat dan bersungguh-sungguh menjalankan ibadah. Kedua, suci, beriman dan berbudi luhur. Kesalehan Ayub nampak ketika setiap kali sesudah hari-hari pesta, Ayub memanggil dan menguduskan mereka. Keesokan harinya, pagi-pagi, Ayub bangun dan mempersembahkan kurban bakaran sesuai dengan jumlah mereka semua, sebab pikirnya, “Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah dalam hatinya.” Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa (ayat 5). Jujur adalah sifat atau sikap lurus hati, tidak berbohong, dan tidak curang. Sifat ini menuntut kesesuaian antara apa yang dipikirkan, diucapkan, dan perbuatan yang dilakukan sehari-hari sesuai dengan kenyataan yang ada. Kejujuran Ayub nampak ketika Ayub sebagai orang beriman sikap hidupnya sesuai dengan yang diimaninya. Hidup yang berintegritas. Ayub tidak hanya memperhatikan kebutuhan jasmani keluarganya, tetapi juga kehidupan rohani mereka. Takut akan Allah berarti sikap hormat, takjub, dan patuh kepada Allah yang lahir dari kasih dan pengenalan akan kebesaran-Nya, bukan rasa ngeri seperti kepada musuh, melainkan dorongan untuk hidup taat dan menjauhi kejahatan. Sikap takut akan Allah dalam diri Ayub nampak dalam kesalehan dan kejujurannya. Sikap hidup yang lebih berharga daripada harta yang ada karena hubungan atau relasinya dengan Allah.
Pada ayat 6 pasal yang sama, peristiwa berubah dari bumi ke sorga. Kita diingatkan bahwa banyak hal yang terjadi baik di bumi maupun di sorga, sebagai tempat kediaman Allah bersama makhluk ciptaan-Nya: anak anak Allah atau malaikat-malaikat atau makhluk-makhluk sorgawi. Ada di antara mereka datang juga Iblis yang dari perjalanannya menjelajahi bumi. Kemudian Allah sendiri yang mengarahkan perhatian kepada seorang yang bernama Ayub, “Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sesungguhnya, tak ada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.” Dan pertanyaan Iblis adalah salah satu tema utama Kitab Ayub: Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub tetap takut akan Allah? (ayat 9). Dengan perkataan lain, apakah mungkin di dunia ini ada sikap hidup yang baik tanpa pamrih? Apakah Ayub dengan sikap hidup yang demikian baiknya demi suatu keuntungan? Menurut Iblis, tidak! Iblis mendakwa Ayub bahwa sikap hidupnya yang sedemikian baik itu demi kekayaan atau kemakmuran yang Ayub terima. Dakwaan Iblis memperlihatkan ketidakmengertiannya akan relasi atau hubungan yang akrab Ayub dengan Allah, suatu persekutuan batiniah yang sejati (David Atkinson dalam salah satu tulisannya tentang Ayub). Iblis tidak melihat kenyataan bahwa bagi Ayub yang terpenting ialah iman yang dihayati dan dengan konsekuen diterapkan sebagai orang yang jujur atau berintegritas. Bagi Ayub, persekutuannya dengan Allah adalah yang terutama, segala-galanya. Menjelang akhir kisah Ayub kita akan lihat, bahwa pada akhirnya yang menyelamatkan Ayub dari peristiwa hidupnya ialah realitas persekutuan pribadinya dengan Allah dalam ketulusan tanpa pamrih bukan demi sebuah keuntungan.
Jawab Allah atas dakwaan Iblis tersebut ialah mengizinkannya mencobai Ayub. Allah menentukan batas pencobaan itu. Sang jahat itu ada tapi kuasanya tidak setara dan tidak sejajar dengan kuasa Allah. Iblis selamanya di bawah kuasa Allah. Allah yang menyatakan, “Sekarang, segala yang dimilikinya ada dalam tanganmu; hanya jangan engkau melayangkan tanganmu terhadap dirinya.” Kemudian pergilah Iblis dari hadapan Tuhan (ayat 12). Maka malapetaka yang membawa penderitaan itu terjadilah menimpa Ayub (ayat 14-19). Harta bendanya habis, para hambanya dan anak-anaknya meninggal. Semua terjadi dalam waktu yang sangat singkat.
Bagaimana respon Ayub? Terbukti Iblis salah total. Ayub tidak mengutuki Allah. Tidak mencari-cari penyebab peristiwa itu. Ia tidak mencari kambing hitam. Semuanya diterima bukan sebagai kehilangan karena bukankah memang semuanya milik Allah (ayat 20-22). Responnya yang mengarah kepada Allah. Bahwa Allah mempercayai Ayub, benar-benar tidak mengecewakan. Pergumulan utama Kitab Ayub mulai tersingkap. Iman Ayub tidak meringankan penderitaannya. Imannya tertuju pada Allah yang hidup yang memelihara umat-Nya. Iman berarti belajar percaya pada Allah dalam kegelapan, dalam ketidakmengertian. Iman adalah pemberian kepada kita agar kita dapat menerima ketidakpastian. Iman yang nampak dalam sikap hidup yang teruji bukan demi keuntungan melainkan karena persekutuan batiniah yang sejati. Kesalehan, kejujuran, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan; bukan sekadar kegiatan keagamaan, melainkan kehidupan yang mencerminkan sikap hidup Kristiani yang harus dipraktekkan dalam keseharian.
Ayub menjadi teladan orang yang hidup saleh, jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Namun demikian, semua sikap hidup yang baik itu tidak membuat seseorang kebal terhadap penderitaan, melainkan memberikan kekuatan untuk tetap setia menghadapinya. Penderitaan pun terjadi bukan karena ada hal yang tidak baik dalam kehidupan kita. Tuhan tetap ada dalam proses hidup beriman, meskipun manusia mengalami penderitaan. Melalui Ayub 1:1-22, kita diingatkan membangun iman tidak bergantung pada berkat, melainkan pada relasi atau hubungan pada pengenalan dan kepercayaan kepada Allah yang tetap berdaulat dalam segala keadaan. Dengan demikian kita tahu bahwa dalam ketidakmengertian seseorang, dapat menjadi alat Allah demi tujuan Allah. Penderitaan menjadi berarti dan tidak sia-sia karena kaitannya dengan tujuan Allah dalam kasih karunia-Nya bagi setiap pribadi bahkan bagi dunia.
DISKUSI
1. Pertanyaan utama Kitab Ayub ditujukan kepada kita semua juga. Mengapa kita beriman kepada Allah? Mengapa kita melayani-Nya? Apakah agar kita memperoleh keuntungan atau imbalan melalui yang kita lakukan? Ataukah, karena iman kita berdasarkan persekutuan yang sejati dengan Allah, yaitu demi Allah sendiri? (Bandingkan Pasal 2 dan 3)
2. Bagaimana Saudara memproses penderitaan yang dihadapi? Bagaimana Saudara memaknai kehadiran Allah dalam pengalaman tersebut?
3. Bagaimana Saudara membangun sikap hidup yang saleh, jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan melalui pengalaman yang dialami?
USULAN LAGU PUJIAN
1. KJ 379 “YANG MAU DIBIMBING OLEH TUHAN”
2. PUJIAN “PELANGI KASIH”
3. NKB 130 “HIDUP YANG JUJUR”
4. PUJIAN “ALLAH PEDULI, ALLAH MENGERTI”
NOTE:
Mendalami Tema Kebaktian Minggu, 13 September 2026
