BAHAN PEMAHAMAN ALKITAB WILAYAH – AGUSTUS 2026


Tema : HATI YANG PERCAYA DAN MULUT YANG MENGAKUI

Bahan : (Roma 10:5-15)

Tujuan : Umat menyadari bahwa kehidupan beriman harus dimulai dari hati setiap pribadi yang percaya dan diteruskan dalam pelayanan secara nyata,sehingga berdampak menjadi kabar baik bagi banyak orang.

Hidup bersama di tengah keberbagaian dan keragaman memang bukan perkara mudah. Jika masing masing pihak mengedepanan kepentingan, maka tidak akan pernah terwujud suasana indah dalam keperbedaan dan keragaman. Masalah akan bertambah rumit bila masing-masing pihak menganggap dirinya benar, apa yang diyakini dalam kebenaran mutlak dan menganggap pihak lain yang tidak sama dengan dirinya dinilai salah, keliru bahkan sesat. Keberadaan komunitas orang percaya di suatu tempat seharusnya mendatangkan sukacita dan kegembiraan bagi siapapun yang datang dari jauh, dan menjadikan pendatang seiman yang mengunjungi tempat baru merasakan sukacita dengan persekutuan indah dan kehangatan kasih dalam persaudaraan. 

Pertanyaan:

Mengapa sering terjadi impian bagi orang beriman dari komunitas kecil yang terbiasa hidup dalam kasih, dalam kehangatan dan persaudaraan sejati, adakalanya mereka menjadi kecewa menerima kenyataan bahwa apa yang dijumpai dan dirasakan tidak sesuai harapan dengan yang terjadi dalam komunitas besar atau pada komunitas di tempat berbeda? 

Jauh sebelum Rasul Paulus mengunjungi Kota Roma (Ibukota Kekaisaran Romawi), sekelompok orang beriman kepada Kristus telah ada di sana. Kekristenan dapat tumbuh dan berkembang dengan adanya pendatang dari Yerusalem, sekalipun awalnya mereka berada di bawah tekanan serta ancaman. Siapapun yang ketahuan mengakui Kristus sebagai Tuhan, maka dia akan ditangkap hidup-hidup dan dijatuhi hukuman mati. Jadi pengikut Kristus di Roma terdiri atas mereka yang berasal dari keturunan Yahudi yang bermigrasi dari tanah asal ke ibukota dan juga adanya kalangan non Yahudi yaitu mereka yang percaya kepada Kristus karena pekabaran Injil. Jadi, kehidupan umat di merupakan perjumpaan antara orang-orang Kristen Yahudi dengan budaya serta tradisi yang dibawa sebelum kekristenan dan orang-orang Kristen non Yahudi yang sebagian besar keturunan Yunani dengan budaya berbeda. Jemaat seharusnya hidup dalam kasih, saling menerima, saling menopang satu dengan lainnya dan saling mengampuni. Justru yang terjadi sebaliknya, mereka bertikai akibat perbedaan pandangan. Bahkan antara tahun 49 – 50 sesama orang Kristen dari kalangan Yahudi dan Yunani (sebagai kelompok baru) bertikai hebat sehingga Kaisar Kaludius mengusir mereka dari Roma (Kis 18:1-4). 

Pertanyaan:

Pertikaian terjadi bukan atas dasar prinsip iman, ‘keselamatan di dalam Kristus’ tetapi tradisi yang dibawa dalam pemahaman Yahudi. Sedangkan bagi non Yahudi mereka percaya kepada Kristus yang menyelamatkan. Pengakuan terhadap Tuhan Yesus Kristus menjadi sangat penting dibanding aturan dan lainnya. Mengapa ada kelompok Kristen seperti orang Yahudi yang justru menghambat pekabaran Injil dengan membawa tradisi dan budaya yang dibawa, bagaiamana pendapat Saudara?

Setelah situasi dan keadaan lebih baik, umat yang terserak kembali ke Roma untuk menjalankan hidup personal bersama keluarga dan membangun kembali persekutuan yang telah terbentuk sebelumnya. Paulus tiba di kota Roma bukan sebagai orang bebas, melainkan menjadi seorang tawanan pemerintah Romawi. Ia berharap ajaran yang diungkapkan melalui suratnya kepada mereka, sebagai orang-orang Kristen mereka dapat hidup dengan baik, tidak bertikai dan diterima oleh lingkungan serta penguasa (Kaisar yang bertahta) dengan saling menerima satu dengan lainnya. Pengakuan yang harus muncul dari hati dan terucap dengan mulut. Apa pun yang dilakukan orang beriman harus didasarkan pada pemahaman yang benar tentang iman yang dihayati. Musa memberikan ajaran dengan Taurat yang menjadi tuntunan umat Yahudi jauh sebelum kedatangan Kristus. Aturan yang dinyatakan melalui Taurat adalah cerminan hidup agar orang tidak bertindak dan berbuat sesukanya. Jadi dengan aturan Musa, maka orang akan tertib berelasi dengan Allah dan hidup menghargai kepada sesamanya. Kristus yang telah datang ke dunia, memberi keselamatan dengan paripurna di atas kayu salib dengan mencurahkan darah dan mengurbankan hidup-Nya. Siapa pun yang menerima dan menguakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, maka mereka akan memperoleh keselamatan. 

Pertanyaan:

Selain percaya kepada Kristus, mengapa ada pemahaman seperti dalam kehidupan kekristenan Yahudi, adanya aturan menjadi Kristen juga harus mematuhi aturan keyahudian bahkan orang non Yahudi harus di Yahudi-kan (proselitasi)? Apakah itu penting?

Rasul Paulus bermaksud menengahi dan tidak berpihak pada salah satu kelompok. Bagi Paulus, keselamatan terwujud karena iman seseorang sebagai tanggapan atas tindakan Allah di dalam Yesus Kristus yang telah berkarya melalui peristiwa salib – kematian – kebangkitan-Nya. Keselamatan bukan terjadi karena melakukan aturan sebagai wujud ketaatan, melainkan reaksi terhadap pengakuan yang diyakini (ay 6-7). Melakukan kebaikan, mewujudkan kasih, hidup dalam damai dan pengampunan dan segala tatanan hidup itu baik – bukan sebagai syarat untuk memperoleh keselamatan – tindakan itu diwujudkan sebagai ungkapan syukur atau cermin diri orang percaya. Dengan kata lain, menjadi percaya kepada Kristus bukan menjadi Yahudi lebih dulu. 

“Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu” Itulah firman iman yang kami beritakan. ay. 8. Jika ada yang mudah mengapa dibikin susah dan mesti mempersulit diri dengan ketidakjelasan? Bukankah firman yang adalah kebenaran dan hadir dalam keselamatan bagi orang percaya ada di dekat dirinya, tepatnya pada pengakuan dalam hati dan mengungkapkan dengan mulutnya. Sangatlah jelas, kehidupan beriman dimulai dengan pengakuan yang muncul dalam keyakinan di dalam hati, mulut memproklamirkan apa yang diyakini sebagai kebenaran akan Yesus Kristus yang berindak melalui kematian dan kebangkitan-Nya. 

Pertanyaan:

Mengapa antara hati dan mulut menjadi penting bagi seorang untuk menyatakan kejujuran termasuk dalam pernyataan iman terhadap Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat? Bagaimana jika ada orang menyatakan percaya kepada Allah melalui keselamatan di dalam Yesus Kristus tetapi mulutnya tidak mau menyatakannya?

Dengan bagian penting yang Rasul Paulus nyatakan dalam lawatan dan tertuang melalui suratnya, dia berharap perbedaan tidak menjadi penghalang dan Kristus menjadi pemersatu dalam hidup di mana Kabar Baik disemaikan untuk bisa berakar – tumbuh – berbuah. Bermula dari hati yang tulus dan dinyatakan dengan ungkapan melalui mulut bisa jadi dianggap biasa. Ternyata perjalanan waktu membuktikan yang dianggap biasa dan sederhana mendatangkan perubahan luar biasa, bahkan kekristenan diterima sebagai agama negara. Terus wujudkan cara demikian dari diri kita kepada orang lain.